Judulnya kedengarannya berlebihan. Penulis sadar betul, tapi tidak menemukan cara lain yang lebih jujur. Sejak SMA penulis mengejar semacam bukti: bahwa pekerjaan yang dibuat sendiri bisa berdiri di depan orang asing dan tetap bertahan di sana. Rapor tidak memberi bukti itu. Rapor diberikan guru, disahkan sekolah, lalu selesai. Kompetisi ceritanya berbeda. Di sana penulis berdiri tanpa nama sekolah di belakangnya.

Mengapa Berkompetisi

Waktu itu penulis tidak punya cara lain untuk mengukur diri selain nilai. Nilai bagus berarti aman, nilai biasa berarti harus berbenah, dan itu saja hitungannya. Lalu penulis ikut kompetisi pertama dan menemukan ukuran yang tidak pernah diajarkan di mana pun: penilaian dari orang yang tidak mengenal penulis, tidak berhutang apa-apa, dan tidak peduli penulis kelas berapa. Menakutkan. Tapi justru karena menakutkan, rasanya nyata.

Ada yang penulis cari tanpa sadari waktu itu juga: tenggat. Di proyek pribadi penulis bisa berhenti kapan saja dan tidak ada yang protes. Di kompetisi, waktu jalan terus. Minggu depan pengumpulan, apa yang sudah siap ya sudah. Rasanya keras pertama kali, lalu pelan-pelan berubah jadi kebiasaan yang penulis bawa sampai sekarang, sampai ke pekerjaan sehari-hari.

Apa yang Menarik dari Kompetisi

Yang membuat penulis balik lagi bukan hadiahnya, tapi format open-ended-nya. Masalahnya tidak dikasih; penulis yang harus menyusunnya. Banyak orang mengira bagian tersulit adalah menyelesaikan masalah. Penulis menemukan kebalikannya: menentukan masalah apa yang layak dikerjakan, untuk siapa, dan sampai di mana batasnya, jauh lebih sulit, dan jauh lebih sering dihindari.

Lomba juga memaksa penulis bekerja di bidang yang asing. Anak dengan disleksia, diskalkulia, dan disgrafia belajar dengan cara yang berbeda, dan penulis harus mengerti itu dulu sebelum berani merancang apa pun untuk mereka. Bencana dan evakuasi: penulis memulainya dari nol, lagi. Hitungannya cuma mingguan, tapi dalam waktu itu penulis harus cukup paham untuk membuat asumsi yang masuk akal. Tidak ada kelas yang mengajarkan cara itu. Sejak terbiasa, penulis jadi pandai berpura-pura paham dulu, lalu benar-benar paham kemudian.

Belum lagi harus berhadapan dengan orang lain yang juga sudah bekerja keras. Ide penulis selalu terasa paling masuk akal sampai melihat sepuluh versi dari orang lain. Ada yang lebih sederhana. Ada yang lebih berani. Belajar melihatnya tanpa merasa terancam adalah bagian yang tidak pernah selesai.

Yang Dibutuhkan

Dulu informasi lomba tidak datang sendiri. Penulis harus mencarinya, dari poster, dari grup, dari pengumuman yang kadang terlanjur lewat. Pertanyaannya selalu sama: relevan dengan kapasitas penulis sekarang, dan punya peluang menang atau tidak? Pragmatis, memang. Tapi pilihan itu mengalir ke mana-mana. Lomba yang dipilih menentukan ide yang akhirnya dituangkan, sekaligus menentukan batas mana yang tidak perlu dikejar.

Begitu masuk, kerjanya dipecah. Tiga tahap besar: sebelum lomba, saat lomba, dan sesudahnya. Tiap tahap dipecah lagi menjadi milestone kecil, supaya minggu ini penulis tahu persis apa yang harus selesai. Sekarang terdengar biasa. Waktu penulis SMA, ini bahkan belum pernah terpikirkan.

Semua itu penulis dapat dari seorang mentor yang mau mengajari. Bukan kursus, bukan buku. Orang yang duduk bersama, memetakan arah, dan yang paling sering, menahan penulis. Menahan karena penulis dulu selalu ingin menambah. Gambaran besarnya sudah ada, penulis masih kepikiran menambah ini dan itu, sudah membayangkan skalanya nanti, padahal yang dibutuhkan hanya untuk menyelesaikan lomba ini. Mentor menunjukkan di mana harus berhenti, dan ternyata itu bagian yang paling sulit diajarkan.

Di karya tulis ilmiah, bentuk batasnya sudah jelas: gagasan disampaikan, dibuat bisa dijalankan, dengan asumsi yang didukung fakta dari eksperimen. Itu saja. Tidak ada ruang untuk kerangka produk atau rencana skala besar. Penulis tidak mengerti aturan ini waktu itu. Yang penulis perhatikan cuma polanya: setiap kali mengikutinya, karya selesai; setiap kali melanggarnya, karya berhenti di tengah jalan.

Medali pertama datang pada Agustus 2020, saat penulis masih SMA. Namanya Ilexia: game edukasi Android yang dibuat dengan Construct 2 untuk anak dengan disleksia, diskalkulia, dan disgrafia. Masalahnya sederhana dan nyata, media belajar untuk ketiga kondisi itu memang sedikit. Yang penulis tawarkan waktu itu baru berupa rancangan, tapi cukup untuk medali perak di Scientific Writing Competition tingkat nasional.

Enam bulan kemudian penulis kembali ke masalah yang sama. Februari 2021, bentuknya berubah jadi website: Difedu, desain situs untuk anak dengan disleksia, diskalkulia, dan disgrafia. Masalah yang sama, sudut yang sedikit berbeda, kompetisi yang lebih jauh. Kali ini penulis pulang dengan medali emas, tingkat internasional. Dua medali dari satu masalah, setengah tahun terpisah, dan penulis baru menyadarinya jauh kemudian: masalah yang sama bisa dijawab berkali-kali dengan bentuk yang berbeda.

Maret 2021 penulis pindah ke masalah yang sama sekali berbeda. Bersama tim, penulis membangun Resavi: dome terapung dengan sistem air, dirancang sebagai pendekatan baru untuk mitigasi dan evakuasi bencana. Di Indonesia National Science Enterprise Challenge, karya itu berakhir dengan medali perunggu. Tidak semua usaha penulis berbuah emas, dan bagian itu sendiri juga pelajaran.

Empat tahun kemudian penulis mengulang prosesnya di kampus, kali ini tanpa mentor. Fostifest 2024, kompetisi nasional dari FOSTI UMS, formatnya open-ended: tim yang menentukan sendiri masalahnya. Penulis dan tim memilih presensi untuk event, lalu membangun SienSi: sistem presensi berbasis QR yang bisa dikonfigurasi untuk event skala menengah sampai besar. Hasilnya medali emas di kategori Pengembangan Perangkat Lunak. Yang berbeda cuma satu: tidak ada yang menahan penulis kali ini. Batas-batas itu penulis yang menaruh sendiri.

Yang Didapat

Yang paling nyata baru penulis rasakan saat skripsi. Selesai dalam satu semester, dan tidak terasa berat, karena kerjanya tidak asing: pilih masalah yang masuk akal, batasi lingkupnya, pecah menjadi tahapan, lalu kerjakan. Cara berpikir itu penulis bawa sejak SMA, dari seseorang yang mau mengajari. Skripsi hanya memakainya lagi.

Soal empat medali, penulis sudah lupa nilai hadiahnya. Yang bertahan justru kebiasaan kecil yang tidak kelihatan: mencari tahu dulu masalah apa yang layak, menolak tambahan yang tidak perlu, menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Judulnya memang kedengarannya berlebihan. Tapi penulis masih mengejar hal yang sama sampai sekarang, dan setidaknya sekarang ada jejaknya.